Sumber : http://www.tni.mil.id

Posting : 01 Juni 2010

KODAM I/BB (1/6),- Harus diakui, sekarang bila berada di kota metropolitan Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang dan kota lainnya terasa begitu sedikit ruang hijau atau pepohonan yang dapat menyejukkan pandangan, menyegarkan nafas dan menyejukkan hati.

Mengapa itu terjadi? Jawabnya karena ruang hijau yang tersedia di kota metropolitan Indonesia semakin sedikit dan hampir tidak ada. Berbagai pihak mengatakan ingin menciptakan ruang hijau di perkotaan, termasuk para gubernur kota metropolitan mengusahakan adanya ruang hijau atau pepohonan. Keinginan itu belum sepenuhnya terwujud. Buktinya masih terasa gersang, panas dan gerah di perkotaan.

Bagaimana rasa panas, gerah dan gersang itu dapat diatasi. Jawabannya hanya satu yakni ruang hijau di perkotaan atau populer disebut dengan hutan kota. Permasalahannya bagaimana menciptakan ruang hijau atau hutan kota itu. Tentunya ini tidak bisa kerja satu orang, sekelompok orang saja tetapi kerja semua orang, semua pihak harus terlibat untuk mewujudkan ruang hijau atau hadirnya hutan kota.

Menanam pohon sama dengan makan nasi, berulang-ulang setiap hari. Tidak bisa makan nasi hanya sekali, lantas setelah itu berhenti tidak makan nasi lagi. Artinya menanam pohon bukan sebatas serimonial atau sekaligus setelah itu berhenti. Tidak demikian karena menanam pohon harus terus menerus setiap waktu dan merawat pohon yang telah ditanam itu secara terus menerus sampai pohon itu berdiri tegak besar.

Menciptakan ruang hijau atau hutan kota tidak bisa dilakukan satu orang saja, sekelompok orang saja tetapi semua pihak dan itu harus dimulai dari setiap orang dan digerakkan oleh pemerintah agar semua elemen masyarakat terpanggil untuk menanam pohon pada lahan-lahan kosong dan membudayakan pada semua elemen masyarakat untuk mau menanam pohon.

Memberi Contoh

Mengajak, mengimbau untuk menanam pohon adalah baik. Namun, lebih baik lagi jika memberi contoh langsung untuk membudayakan menanam bagi semua orang. Caranya mengajak langsung untuk menanam pohon dalam menciptakan ruang hijau atau hutan kota.

Pemerintah kota, khususnya Pemerintah kota (Pemko) Medan dapat mencontoh apa yang dilakukan seorang peraih Piala Kalpataru dari presiden Indonesia, Marandus Sirait yang mengelola Taman Eden 100 di kecamatan Lumbanjulu kabupaten Toba Samosir. Taman yang berisi ratusan jenis tanaman langka dan tanaman kehidupan ini sebagai daerah tujuan wisata agro yang banyak dikunjungi para pengunjung, baik wisata lokal, nasional dan internasional.

Ada perlakuan yang bisa dicontoh Pemko Medan dari para pengunjung Taman Eden 100 di kecamatan Lumbanjulu itu yakni setiap orang yang datang ke taman itu dapat menanam berbagai jenis pohon yang bibitnya disediakan pihak pengelola dengan memberikan uang untuk pengganti biaya bibit, membuat papan nama penanam pohon dan pemeliharaan tanaman yang ditanam.

Banyak yang tertarik dan mau menanam pohon di Taman Eden 100 itu. Mengapa? Jawabnya karena dengan menanam pohon di lokasi Taman Eden itu nama penanam tanaman itu dipasang pada papan nama yang digantungkan pada tanaman yang ditanam. Nama penanamnya dan nama tanaman yang ditanam.

Mengapa banyak yang tertarik dan mau menanam? Jawabnya karena namanya akan diabadikan di lokasi Taman Eden 100 yang indah dan asri itu. Ada rasa bangga melihat namanya tertulis indah di pohon yang ditanamnya. Rasa bangga ini membuat dirinya cinta akan tanaman.

Budayakan Menanam

Tidak jauh dari Taman Eden 100, sekitar 22 kilometer arah ibukota Kabupaten Toba Samosir, Balige ada lokasi perumahan dan pabrik bubur kertas (pulp) TobaPulp di Kecamatan Parmaksian memiliki Hutan Tanaman Tamu (HTT) yang aktivitasnya hampir sama dengan Taman Eden 100, yakni tamu-tamu perusahaan yang bila bertandang ke perumahan TobaPulp bisa menanam pohon di lokasi Hutan Tanaman Tamu (HTT).

HTT TobaPulp yang berada di dalam area perumahan itu sudah ada sejak 1997, tepatnya di perkampungan B bersebelahan dengan guest house dan mesjid. Lokasinya sangat bagus, sebab semua orang dapat melihat karena posisinya di tepi jalan yang setiap hari dilalui para pekerja TobaPulp yang ingin bekerja dan juga tamu-tamu perusahaan yang berkunjung.

Berbagai jenis tanaman ada di HTT itu, mulai dari Pinus, Sengon, Ekaliptus, Ingul, Mangga, Mangis, Sawo dan lainnya. Berbagai jenis tanaman ditaman agar sesuai dengan namanya hutan tanaman tamu dan yang menanamnya adalah tamu-tamu perusahaan yang berkunjung ke TobaPulp. Sejumlah nama ada di HTT itu sebut saja MS. Kaban mantan Menteri Kehutanan, bupati Toba Samosir, Monang Sitorus, mantan Menag Lingkungan Hidup, Gubernur Sumatera Utara, Pangdam I/Bukit Barisan, Danren 023/KS dan yang lainnya.

“Wah, ini ide bagus, perlu dicontoh yang lain,” ucap Danrem 023/KS, Kolonel Inf Agus Kriswanto ketika usai melakukan penanaman tanaman di HTT TobaPulp itu, Kamis (6/5).

Hutan Tanaman Tamu memiliki multifungsi, bukan sekedar serimonial menanam tanaman. Ada beberapa pesan yang disampaikan yakni pesan untuk mengajak, membudayakan budaya menanam bagi siapa saja. Pesan mengajak siapa saja untuk peduli dengan lingkungan dan mereka yang diajak akan tertarik sebab di antara tanaman yang akan ditaman itu sudah tumbuh berbagai jenis tanaman lengkap dengan nama tanaman dan yang menanamnya.

Ada rasa bangga menanam sebab namanya tercantum pada papan nama tanaman. Semakin banyak yang telah menanam, berarti semakin ingin berpartisipasi menanam tanaman di lokasi HTT itu.

Ide kecil, sederhana ini baik dilakukan pada halaman kantor-kantor instansi pemerintah, swasta, perusahaan negara, perusahaan swasta pada kota-kota metropolitan di Indonesia. Sudah pasti yang namanya instansi pemerintah, swasta, perusahaan negara, perusahaan swasta memiliki kunjungan tamu. Tidak salah tamu-tamu spesial yang berkunjung ke instansi itu diajak untuk menanam pohon pada lahan pekarangan kantor instansi tersebut.

Para tamu yang berkunjung ke instansi itu pasti mau dan senang menanam sebab para tamu yang melakukan penanaman pohon dapat sebagai pertanda pernah berkunjung ke instansi itu. Saling menguntungkan. Bagi yang berkunjung disuruh menanam pohon menjadi senang dan yang dikunjungi menjadi bangga. Tanaman yang ditanam itu menjadi tanda abadi sebab tanaman yang ditanam akan terus tumbuh dan besar.

Pada sisi lain, sudah pasti tanaman yang ditanam itu tumbuh subur dan besar akan menciptakan suasana asri di lokasi kantor instansi itu dan juga memberikan pembelajaran untuk membudayakan budaya menanam untuk siapa saja yang melihat tanaman itu.

Sudah pasti menanam tidak ada ruginya, selalu menguntungkan. Lahan yang ditanam menjadi subur, lahan kosong yang tadinya tidak menghasilkan bila ditanami dengan baik akan menghasilkan. Untuk itu budaya menanam harus ditamankan sejak dini sehingga apa yang diinginkan dapat terwujud.

Ide HTT melahirkan banyak manfaat, minimal bagi yang menanam namanya menjadi abadi sebab siapa saja dapat menyaksikan tanaman itu dan mengetahui siapa yang menanam tanaman itu. Ayo, mari mulai siapa yang mau membuat HTT di instansinya.