Teks oleh Teresa Chang

Link : http://aplausthelifestyle.com

Menikmati weekend bersama sahabat di alam terbuka pasti mengesankan. Melepaskan segala kesibukan dan rutinitas. Menelusuri hutan alam, alangkah segarnya…

“MAU ke Taman Eden? Memangnya mau dimakamkan di sana?” Begitu pertanyaan sekaligus pernyataan iseng-iseng berhadiah yang dilontarkan seorang sobat Aplaus. Bunyi celetukan sobat yang lain kira-kira begini, “Nggak lifestyle banget Aplaus ke Taman Eden, mending ke resort anu, bla-bla-bla…”

Pliz deh, guys, yang kita obrolin ini bukan Taman Eden yang markasnya di Tanjung Morawa. Lagipula kayaknya belum waktunya deh, mengutip Chairil Anwar ‘Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi’ tau, he-he… Dan memang bukan maksud hati kami hendak berleha-leha di resort yang fasilitas di setiap areanya so pasti terjamin. We need challenge! Setidaknya untuk kali ini.

Sudah bisa menebak? Bingo, Taman Eden ini tak lain dan tak bukan adalah Taman Eden 100 di kawasan Lumban Rang, Desa Sionggang Utara, Kec. Lumban Julu, Kab. Toba Samosir. Suatu kawasan agrowisata yang letaknya tak begitu jauh setelah Parapat, tepatnya di Km 16. Just for your info, tahun 1999 kawasan ini sudah mulai diusahai, lanjut, Mei 2000 pun diuji coba alias go public dan ditargetkan rampung pada tahun 2020.

Setelah sekitar 4,5 jam perjalanan dari Medan, Gapura “Selamat Datang”-nya bisa dengan mudahnya kamu lihat di sebelah kiri jalan. Welcome! Singkat cerita, mobil yang kami tumpangi pun berhasil diparkirkan dengan rapi oleh bang Soleh, driver Aplaus, tepat di samping Posko Taman Eden 100.

Setelah bersalaman dan chit chat sejenak dengan bang Marandus Sirait—sang penerima Piala Kalpataru “Perintis Lingkungan Hidup” tahun 2005, Opung (panggilan untuk ayah bang Andus) dan kru, untuk menghemat waktu, kami pun langsung diajak trekking ke dalam hutan. Eh, guys, memang ada lokasi camp alias perkemahan yang tak jauh dari Posko, tetapi agaknya bukan ini yang kami tuju. Sebabnya, kami baru akan tiba di lokasi kemping sekitar 4 jam perjalanan lagi, dengan berjalan kaki. Alamak!

That’s why, hal yang pertama sekali mesti diluruskan adalah motivasi atau keinginan kuat kami untuk melanjutkan perjalanan ini. Apakah kami ini cuma sekadar menjalankan tugas sebagai jurnalis—yang tentu saja selalu dirasuki rasa ingin tau—atau bahkan memunculkan sisi petualang rimba yang ternyata selama ini bersembunyi dalam diri kami, caile… Tak cukup itu saja, simak beberapa motivasi yang kami rasakan selama perjalanan ke dan dari lokasi kemping di Taman Eden 100 ini. Dan tentu kamu pun bisa merasakannya!

1. Mendekatkan diri dengan alam. Siapapun yang datang kemari diajak untuk mencintai alam dan Danau Toba. Seandainya mereka (baca: berbagai jenis flora dan fauna di sini) bisa berbicara, mereka akan berkata, “Pliz, go green guys!” Apalagi Taman Eden artinya manusia, tanaman (pepohonan dan bunga), makhluk hidup lainnya (burung, monyet, beruk, mawas, katak, kadal, kupu-kupu bahkan kabarnya ada pula harimau Sumatera asli serta beruang!) hidup rukun di dalamnya. Sementara 100 artinya terdapat seratus jenis tanaman pohon berbuah. Ayo, hirup udaranya yang teramat segar… Konsentrasilah pada pengambilan napas melewati hidung dan pengeluaran napas melalui mulut (setidaknya pada lima menit pertama setiap jalan). Napas yang dalam dan penuh dapat membantu melepaskan stres dan membuat kamu lebih semangat saat berjalan cepat, terlebih mendaki bukit.

2. Menjalin kebersamaan dan kekompakan. Sobat seperjalanan kamu agak mok-mok (baca: gendut) sehingga perjalanan pun jadi tersendat-sendat? Ada yang kegenitan pake high heels segala, ber-make-up ria pulak bak selebritis? Atau ada yang entah kenapa bisa masuk angin sehingga harus maaf, muntah di awal perjalanan? Jadinya kamu pun harus bermurah hati membawa barang bawaan mereka (yang tentunya tak seringan yang kamu inginkan) dan mengulurkan tangan, saling membantu saat berjalan menaiki bukit, melewati jembatan yang seadanya, bahkan menawarkan bantuan untuk memapah mereka bila perlu? Good job, guys, terimalah orang lain apa adanya, bukan ‘ada apanya’. Bekerjasamalah. Pastikan boot, sepatu trekking, sandal gunung atau minimal sandal jepit lah yang nangkring di kaki mereka. Dan, lanjutkan!

3. Melatih stamina fisik dan mental. Kami sempat terkagum-kagum melihat bang Andus dan dua krunya yang masih belia: Mantun dan Tanto. Meski bertubuh kerempeng, ketahanan fisik mereka luar biasa. Menebas tetumbuhan hutan dan sesekali meloncati pohon yang tumbang terlihat ringan. Benar juga kata pepatah, alah bisa karena biasa. Bahkan Uli—keponakan bang Andus yang berperawakan mungil— ternyata kuat dan lincah menerobos hutan belantara. Dan ada lagi, mereka tak ada yang berkacamata! (masuk di akal, tanaman hijau ada di mana-mana). Bandingkan dengan kami, orang kota yang berkacamata ini, yang sebentar saja napasnya sudah ngos-ngosan dan minta istirahat. Lebih parahnya lagi, pernah terlintas di benak untuk membatalkan perjalanan ini, ha-ha… Dengan banyaknya tantangan mencapai tujuan, bang Andus sharing, ia belajar banyak dari alam yang tak jauh berbeda dengan kehidupan. Sejenak, kami diajak untuk melihat kesempatan dalam kesulitan, bukan melihat kesulitan dalam kesempatan. Daripada melafalkan hitungan langkah (kiri, kanan, kiri, kanan) ketika berjalan, lebih baik suarakan tiga kata yang membangkitkan semangatmu, misalnya: “Ya, saya bisa!” Dan belajar tersenyum bila masalah datang.

4. Menguji tingkat kepasrahan, kesabaran, dan keuletan. Di sini kamu boleh lupa dompet, asal jangan lupa doa. Terlebih sebelum memulai perjalanan dan pastinya, selama perjalanan. Ini saatnya berbicara dengan-Nya, mengagumi kreasi-Nya yang dahsyat. Kalau dipikir-pikir selama ini seberapa sering ya kita berdoa sebelum beraktivitas? Jangan-jangan motto kamu masih, “Just do it!” Hmm… di sini kamu pasti akan ingat untuk: Pray first! Sebabnya, waktu seakan terhenti. “Masih jauh lagi, bang?” berkali-kali pertanyaan ini kami lontarkan. “Sudah dekat,” jawab Mantun cepat (jawaban khas pemandu camping, entah untuk menenangkan kami yang dipandu atau untuk memotivasi diri sendiri. Hi…). Hari semakin gelap. Sesaat, kami melewati sungai yang airnya jernih sekali sebelum kami sampai di lokasi camping yang sebenarnya. Di tengah hutan belantara! Riama Siringo-ringo, mahasiswi USU yang ikut dalam rombongan kami pun terlihat senangnya minta ampun. Oh, Gusti, kesabaran dan keuletan kami sejauh ini ternyata tak sia-sia. Waktunya membersihkan lokasi dan mendirikan tenda untuk bermalam. Makanya, sleeping bag jangan sampai ketinggalan. Peralatan masak dan perbekalan makan apalagi. Banyak uang pun percuma saja, mini market tak ada di sini, eh-eh…

5. Jika cuaca bersahabat, kamu bisa menikmati keindahan Air Terjun 7 Tingkat a.k.a. Air Terjun Jantung Rimba. Masih sekitar 2 jam perjalanan lagi bila dihitung dari tempat kemping ini. Tepatnya 11 km dari Posko tadi. Jika tidak—seperti yang Aplaus alami, hujan sepanjang hari—tentu saja tidak disarankan untuk pergi ke lokasi air terjun ini. Alasannya pun beragam, mulai dari susah, jauh sampai bahaya, mengingat takut tergelincir akibat licin dan oh no… bisa masuk ke jurang yang mengintai di sepanjang pinggiran jalan. Tentu saja kami kecewa. Namun saat itu hati kecil kami berkata: Lakukanlah yang benar bukan apa yang kamu rasa benar! Toh, next time kami masih bisa melanjutkan perjalanan ini. Usai mengopi, sarapan, dan berteduh selama hampir setengah hari di tenda (kehabisan stok tebak-tebakan dan cerita lucu pulak), kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Masih ditemani rintikan hujan, basahnya dedaunan dan suara alam.

6. Menikmati eksotisme sekeliling. Meski harus balik ke arah Posko, kami sedikit terhibur karena ternyata masih ada air terjun lainnya di sini yaitu Air Terjun Gua Kelelawar (6 km dari Posko), selain Air Terjun 7 Tingkat yang urung kami nikmati tadi. Kesejukan dan keindahannya yang eksotis tetap memesona. Yuk, ngopi atau ngeteh dan makan mie sambil menikmati dinginnya air terjun. Mandi dan berenang juga ya… Bila kondisi tubuhmu masih prima, jajal pula Bukit Manja (4 km dari Posko). Dari puncak bukit sekitar 1900-an meter dari atas permukaan laut ini kita dapat bermanja-manja dengan alam, dengan latar belakang hamparan Danau Toba dan Pulau Samosir yang luas. Masih kurang menantang? Lanjutkan perjalananmu ke Puncak Gunung Pangulubao, dengan ketinggian 2150 meter dari atas permukaan laut! Namun dalam perjalanan pulang ke Posko, ingat untuk singgah sejenak ke Rumah Tarzan. Dari rumah di atas pohon (800 meter dari Posko) yang sengaja dibuat setinggi +/- 10 m ini kita dapat menghijaukan mata kembali lewat hamparan hijaunya yang luas. Akhiri perjalananmu dengan singgah di Air Terjun 2 Tingkat (500 m dari Posko). Mandi, berenang ataupun santai melepaskan ketegangan (lagi), siapa takut? Astaga. Hari mulai gelap. Merasa tak mungkin langsung meneruskan perjalanan pulang ke Medan, kami pun menginap semalam di Parapat View Hotel. Nikmat sekali meregangkan kaki dan beristirahat semalaman setelah lelah kemping dan trekking di hutan!

7. Mengadaptasi si hijau di lingkungan sekitar. Tidak perlu sampai menghutankan tempat kos atau rumah yang kita diami sekarang. Mari kita mulai dengan hal-hal kecil, dengan menanam bunga, misalnya. Atau yang paling mudah, dengan tidak membuang sampah sembarangan. Apalagi menebangi pohon yang jelas-jelas melindungi kita dari pencemaran udara dan global warming yang semakin merajalela. Oh ya, di Taman Eden 100 tadi juga terdapat Bank Pohon “Evergreen” yang menyediakan bibit-bibit tanaman kepada masyarakat yang peduli kelestarian alam. Jangan disia-siakan…