save tao tobaJUMAT sore (13 Juni 2008), sekitar 20 orang pemerhati dan pencinta Danau Toba (Sumatera Utara) menggelar “Diskusi Perumusan Plan of Action GLOBAL MOVEMENT to saVe TAO TOBA (World Heritage)” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Peserta pertemuan, antara lain: Bang Indra Nababan, Amir Husein Daulay, Liana Hutasoit, Apul Silalahi, Komar, Gepeng, Tiur, Duma, Cory, dll. Kesimpulan sementara sebelum diskusi digelar, berdasarkan pemberitaan media massa, musuh bersama yang dihadapi Tao Toba adalah pengusaha, pemerintah, dan kapitalis yang semuanya berusaha mengeksploitasi Tao Toba demi keuntungan materi semata.

          Amir Husein Daulay membuka diskusi dengan memberi gambaran bahwa orang-orang yang selama ini peduli terhadap Tao Toba***[1] melihat Tao Toba dari dua sisi. Contihnya, ada kelompok Toba Dream, ada kapitalis. Satu pihak memandang Tao Toba dari sisi ekologi, pihak lain melihatnya dari sisi ekonomi atau pariwisata. “Dalam globalisasi, Tao Toba tidak bisa lagi dilihat dari dua sisi ini, tapi harus dilihat dari sudut pandang dunia untuk menyelamatkan Tao Toba. Demi kelangsungan Tao Toba secara holistik dan internasional, perlu melibatkan semua suku, karena Tao Toba bukan hanya milik suku Batak,” kata Amir.

          Mencermati persoalan***[2] Tao Toba terkini, Amir melontarkan sebuah pertanyaan, “Langkah-langkah macam apa yang harus dilakukan?”

          Menjawab pertanyaan tersebut, Yulius P Silalahi mengatakan, sebaiknya menggandeng semua elemen-elemen terkait, lalu menyamakan visi dan misi bersama demi menyelamatkan Tao Toba.

          Wartawan Batak Pos ikut menyumbangkan pemikiran. Menurutnya, ada tujuh kabupaten yang bersinggungan langsung dengan Tao Toba. “Untuk itu harus ada gerakan secara global dan nasional yang dilakukan secara permanen,” ucapnya.

          Liana Hutasoit mengusulkan, sebaiknya persoalan Tao Toba tidak perlu melibatkan dunia internasional, tidak perlu secara global. Agenda semacam ini terlalu besar. “Saya pikir cukup secara nasional saja,” ucapnya.

          Indra Nababan menimpali dengan mengajukan pertanyaan dan dijawabnya sendiri. Kata Nababan, siapa yang berkepentingan Tao Toba dilestarikan? Pihak yang berkepentingan adalah penduduk setempat. Jangan seperti yang selama ini terjadi, justru orang-orang jauh yang memperhatikan dan mengurus Tao Toba. “Jadi, solusinya adalah bagaimana rakyat sekitar Tao Toba tampil sebagai pahlawan memperjuangkan dan menyelamatkan kelestarian Tao Toba, sebab yang dibutuhkan Indonesia sekarang adalah revolusi,” terang Nababan seraya menegaskan, strategi perlawanan terhadap kapitalis dan pencuri kekayaan Tao Toba adalah rakyat setempat menjadi tentara terdepan dan elemen-elemen lain yang terlibat cukup jadi backing vokal saja.

          Lebih jauh Nababan mengemukakan, Tao Toba adalah masalah negeri ini. Tao Toba menjadi persoalan karena pemerintah menjadikan Tao Toba sebagai materi ekonomi yang melulu untuk dieksploitasi. Pengusaha juga begitu, lebih mengedepankan sisi ekonominya. Pihak pariwisata pun demikian. Lalu siapa yang melihat sisi ekologinya? Dulu ada Yayasan Pencinta Danau Toba yang melihat sisi ini, tapi tidak menghasilkan apa-apa setelah menghabiskan uang sekian miliar rupiah.

          Masih bermuara pada pertanyaan Amir di muka, Tiur mengemukakan, “Begitu Indorayon masuk, semua orang di sana berupaya memiskinkan Parapat dan masyarakat lebih banyak diberi janji-janji. Berdasarkan pengalaman yang hanya dijanji-janjikan, saya percaya rakyat punya kekuatan untuk bergerak, apalagi gara-gara Indorayon sekarang jalan-jalan di sana jadi rusak. Pendekatan yang perlu dilakukan adalah merangkul pemuda dan petani setempat,” imbuhnya.

          “Orang setempat yang dekat dengan Tao Toba adalah orang-orang Ambarita. Supaya dalam waktu cepat ada perubahan, kita ajak mereka berikut elemen yang terkait. Kita ajak mereka bagaimana memelihara bumi, bagaimana memelihara ekonomi Allah,” sokong Nababan.

 

Bukan Lari Sprint

Merespons peserta diskusi, Amir Husein Daulay mengemukakan, “Ini adalah gerakan tanpa akhir secara marathon, bukan lari sprint untuk menyelesaikan masalah Tao Toba. Solusi paling ideal adalah membangun jaringan dengan mendayagunakan elemen-elemen yang sudah ada. Semua pihak harus dirangkul.”

          “Saya optimis dengan gerakan global untuk menyelesaikan persoalan Tao Toba. Jadi, bikin gerakan dunia, karena Tao Toba adalah milik internasional,” tambah Amir.

          Apul Silalahi angkat bicara. Kata Apul, “Sejak lama ada pemiskinan masyarakat di Tao Toba. Apa yang terjadi di seputar Tao Toba bukan persoalan nasib, tapi pemiskinan masyarakat secara struktural dan sistematis.”

          Melihat kenyataan di Tao Toba, tegas Apul, dibutuhkan gerakan serius dan harus segera diantisipasi. “Kita harus melakukan gerakan kultural secara global, karena bicara Tao Toba adalah bicara Indonesia dan dunia. Tentang Parapat, persoalan Parapat sebetulnya adalah persoalan Parapat pribadi sendiri,” ungkap Apul.

          “Persoalan yang dihadapi Tao Toba adalah persoalan nilai,” sambung Gepeng. Nilai-nilai ini antara lain meliputi nilai historis, nilai estetika, nilai budaya, nilai ekonomi, dan nilai spiritual. “Sekalipun saya orang Jawa, ada nilai-nilai yang tak boleh hilang dari Tao Toba, dan kita tak bisa menyelesaikan masalah Tao Toba tanpa pemerintah sebagai pengambil kebijakan.”

          “Harus dipelajari betul, sebetulnya apa masalah krusial yang dihadapi masyarakat Tao Toba? Apakah persoalan konservasi, perkara budaya, atau persoalan apa? Dari sini baru bisa diambil langkah-langkah apa yang harus dilakukan,” usul Duma.

          Komar, putra Palembang yang melihat Tao Toba sebagai aset Indonesia, mengajak peserta diskusi bagaimana mengundang kekuatan masyarakat Tao Toba lewat kultur setempat. “Jangan seperti pengalaman Sungai Musi di Palembang. Sekarang Sungai Musi tak bisa lagi dilayari kapal karena telah mengalami pendangkalan, pencemaran, dan pencurian. Ini terjadi karena tidak ada pemberdayaan terhadap masyarakat setempat. Nah, untuk memecahkan masalah Tao Toba, kita perlu PERDA. Peraturan ini boleh dikeluarkan oleh pemerintah. Kalau Pemda tidak bisa, biar rakyat yang mengeluarkan PERDA itu,” tandas Komar.

          “So what? Action plan-nya apa?” tukas Amir setelah mendengarkan berbagai masukan dari peserta diskusi.

          Menjawab pertanyaan tersebut, disepakati untuk membentuk Tim Perumus, yakni: Tiur, Apul, Gepeng, Yulius, dan Cory. Hasil Tim Perumus akan dibahas dalam pertemuan berikut, minggu depan di TIM. Tugas Tim Perumus adalah membuat Action Plan untuk sebulan ke depan.

          Sementara Tim Perumus menggodok Action Plan, peserta diskusi dimohon aktif menyumbangkan ide-ide dan usulan. Semua ide dan usulan dicemplungkan ke milis saVe_tao-toba@yahoogroups.com.

 

***[1]PROFIL MINI TAO TOBA

[01]. Lokasi: Provinsi Sumatera Utara, Indonesia

[02]. Luas: Mencakup area seluas 1.127 km2 dan tercatat sebagai danau kaldera (bekas letusan gunung berapi) terluas di dunia.

[03]. Pulau: Terdiri dari puluhan pulau dan Samosir menjadi pulau utama dengan luas sekitar 600 km2.

[04]. Usia Danau: Sekitar 75 ribu tahun, terbentuk karena letusan Gunung Toba Purba yang diperkirakan sebagai letusan terdahsyat selama kurun dua juta tahun. Letusan itu membuat Amerika Utara mengalami satu tahun tanpa musim panas karena matahari tertutup debunya.

[05]. Suplai Air: Diisi oleh sekitar 100 anak sungai dan puluhan air terjun.

[06]. Hutan: Dikelilingi hutan tropis, hutan produksi, dan lahan pertanian yang isinya tidak diteliti secara menyeluruh dan jarang dipublikasikan secara terbuka. Dapat dipastikan, kekayaan flora dan fauna Tao Toba jauh lebih besar karena terhubung dengan Bukit Barisan sebagai salah satu hutan paru-paru dunia.

[07]. Keunikan: Memiliki keindahan panorama air, lembah, kekayaan budaya, dan merupakan sebuah muara air raksasa.

[08]. Komunitas: Di seputar danau bermukim empat sub-etnis suku Batak, yakni Batak Karo, Pakpak, Simalungun, dan Batak Toba.

[09]. Fasilitas: Memiliki ratusan hotel di Siantar, Parapat, dan Tuktuk, namun tak banyak yang dikelola dengan standar internasional.

[10]. Akses: Dari Medan, jalan ke Danau Toba adalah rute yang padat, sumpek, dan sempit. Bahkan, rute Medan-Berastagi disebut-sebut sebagai ‘jalur maut’.

[11]. Transportasi: Bus tua, taksi gelap, taksi resmi, dan pesawat kecil (sampai Tapanuli Utara dan Samosir).

[12]. Aktivitas Wisata: Bike riding melewati jungle trails, trekking, watersports galore, termasuk berlayar dan jet ski, mancing di sungai, berenang, banana boat, nature study, plus belajar geologi dan Sejarah Batak.

[13]. Proses Pembuatan Danau: Diberikan Tuhan Yang Maha Esa dengan cuma-cuma alias gratis.

 

***[2]PROBLEMA TAO TOBA

[01]. Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKPEKDT) pada tahun 2007 menemukan, air di Danau Toba telah tercemar seluas 110 ribu hektar.

[02]. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Bapelda Sumatera Utara Ir Perdana Ginting MSc mengatakan, Danau Toba kini terancam pencemaran berat. Pencemaran berasal dari limbah rumah tangga, restauran, hotel, dan menjadi septic tank hotel-hotel di sekitar danau.

[03]. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto mengatakan, tata ruang di wilayah Danau Toba mulai rusak akibat belum adanya koordinasi di wilayah sekitar danau.

[04]. Ketinggian normal air Danau Toba adalah 906 meter di atas permukaan laut, dan pada awal Juli 2007 mengalami penurunan sebanyak 3,5 meter di atas permukaan laut. Koordinator Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumatera Utara Jonatan Tarigan mengatakan, debit air Danau Toba mengalami penurunan akibat perubahan tata guna lahan. Lahan yang seharusnya untuk pertanian berubah menjadi perkebunan sawit yang banyak menyedot air danau. Proyek-proyek pemerintah seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Siguragura di Sungai Asahan dan PLTA Renun di Kabupaten Dairi juga mengakibatkan susutnya air danau.

[05]. Perusahaan Toba Pulp Lestari yang beroperasi di Sosor Ladang (Porsea) sejak tahun 1989, membuang limbahnya ke Sungai Asahan yang bermuara di Danau Toba.

[06]. Kapal ferry yang beroperasi di Danau Toba menumpahkan minyak dan oli, sehingga Danau Toba tercemar bakteri coli yang berbahaya bagi kesehatan.

[07]. Hutan lindung di Sibatuloting yang berjarak sekitar 4,5 km dari kota Parapat mengalami penggundulan.

[08]. Ratusan warga Porsea pernah berunjuk rasa ke kantor DPRD Tobasa lantaran belasan warga mengalami gatal-gatal di sekujur tubuh yang diduga karena terkontaminasi sejenis zat berbahaya dari limbah pakan ikan dari keramba atau tempat pemelihataan ikan yang banyak bertebaran di berbagai tepian Danau Toba.

[09]. Warga Desa Bage, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun (Sumut) mulai kekurangan air untuk keperluan ladang pertanian lantaran sumber air andalan mereka dari Danau Toba semakin surut. Selain itu air di pinggir danau sudah tak layak untuk menyirami tanaman karena kotor dan berlumpur. (Yulius P Silalahi/Dirangkum dari berbagai sumber)

 

Tulisan ini dikirimkan oleh : Alinea Biru, 15 Juni 2008.

Karena isinya sangat penting dan mendalam demi keselamatan Danau Toba dan Lingkungannya, makanya layak untuk diketahui oleh orang banyak.

Semoga hati dan perbuatan kita terpanggil untuk menyelamatkan Danau Toba yang kita banggakan ini.

Salam Lestari … !