“Penulis (Marihot Sirait) mengutip tulisan ini dari harian umum Analisa, yang edisi dan tanggal terbitnya penulis tidak tahu lagi, karena Marandus mengirimnya kepada saya hanya berbentuk kliping. Namun penulis berharap ada manfaatnya bagi pembaca blog ini”.

NAMANYA Taman Eden, Umat Kristiani akan teringat bagaimana kisah “Adam dan Hawa” menikmati sebuah surga di Taman Eden yang ditumbuhi aneka ragam buah-buahan. Namun sejak manusia dilumuri dosa, keindahan Taman Eden yang disucikan itu kini hanya ada dalam mimpi.Berinspirasi dari kisah dua anak manusia itu, Marandus Sirait penerima penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, medio tahun 2005 lalu termotivasi menciptakan “surga dunia” di atas lahan hutan alam seluas 40 hektar, yang kemudian diberi nama dengan Taman Een 100.

Lelaki lajang, 34 tahun (kala itu, sekarang sudah berkeluarga dan memilik 1 putri) ini merupakan satu dari sepuluh orang penyelamat bumi Indonesia yang mendapatkan penghargaan “pohon kehidupan” tahun lalu.

Taman Eden 100 berada di Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Toba Samosir, sekitar 18 km dari Parapat. Kondisi jalan yang sangat mulus, hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan roda empat dari kota Parapat untuk sampai ke lokasi ini. Di pintu masuk sebelah kiri badan jalan, pengunjung akan melihat pintu gerbang yang bertuliskan “Taman Eden 100”.

Taman Eden 100 tampak ramai di hari Minggu, atau pada masa-masa hari libur sekolah. Baru-baru ini Analisa dan rombongan mengunjungi lokasi ini. Di lokasi yang rimbun dan ditumbuhi aneka tanaman pohon berbuah ini tampak beberapa keluarga menikmati suasana alam yang masih terjaga. Cicit burung di dahan kayu menjadi nyanyian alam dan dedaunan basah menjadi aroma terapi bagi pengunjung.

Taman seluas 40 hektar berisi macam-macam tanaman khas Danau Toba, seperti jabi-jabi, hariara, ingul, sampinur bunga, andaliman, andalehat, anturmangun, sampinur tali, antarasa dan lain-lain. Semua jenis tanaman yang ditanam disini berjumlah lebih dari 100 jenis, sehingga Marandus memberi namanya “Taman Eden 100”.

Ada pula tanaman yang ditanam sendiri oleh pengunjung, ditandai dengan pencantuman nama-nama mereka di atas tanaman itu, seperti nama sederet penyanyi ibukota tercantum di sebuah plang kecil yang dilekatkan di tanaman tersebut. Terdapat nama Panbers, Joy obing, Ade Manuhutu, Perkumpulan, Organisasi atau pengunjung yang datang secara pribadi dan juga banyak yang menyumbangkan tanaman di taman ini, seperti France & Taipei, Sposa dan perkumpulan dari gereja-gereja. Itu berarti mereka yang tercantum namanya di tanaman tersebut sudah pernah berkunjung ke lokasi ini.

“Siapa saja boleh menanamkan pohon di sini. Kalau bibit tanaman yang kita sediakan kita mengutip Rp. 30.000,- per tanaman untuk merawatnya,” Kata Marandus sembari menambahkan, bila kelak pohon itu berbuah, itu menjadi milik menanam (yang punya nama).

AIR TERJUN

Itulah satu daya tarik yang dibuat Marandus. Daya tarik lain kalau mau sedikit berjalan mengikuti tali air menembus hutan di taman ini, pengunjung dijamin terpesona menikmati air terjun yang menyiramkan air jernih, bening dan sangat sejuk. Menuju ke lokasi air terjun, pengunjung akan menuruni anak tangga yang sedikit curam. Tapi tidak perlu khawatir, karena disisi tangga yang curam itu dilindungi pagar besi.

Dari tangga menuju aliran air terjun itu, tampak hamparan sawah milik masyarakat Desa Sionggang Utara. Tanaman lain seperti kopi, dan sayur mayur yang ditanam masyarakat tanpa menggunakan pupuk. Pemandangan ini terlihat dari balik rimbunan pohon-pohon yang terbuka.

Demikianlah kondisi Taman Eden 100, Hutan alam yang ideal digunakan sebagai lokasi retreat, wisata keluarga, atau bagi yang gemar olah raga hash sungguh menjanjikan ketenangan.

Marandus memberikan kebebasan kepada para pengunjung untuk menikmatinya, tanpa dipungut bayaran, kecuali mau menanam tanaman sendiri di sini. “Meski demikian kami tetap menerima uluran tangan para pengunjung untuk membiayai perawatan taman ini. Kalu menharapkan bantuan dari pemerintah setempat sangat jauh dari harapan,” papar Marandus.

Di sebelah warung yang dibuka orangtuanya, terdapat Sekretariat Taman Eden 100. Bagi penyumbang atau yang menanam tanaman, volunteer yang membantunya meminta pengunjung mengisi daftar tamu dan membubuhi tanda tangan.

Di atas sebuah meja terlihat sebuah kotak berbentuk segi empat terbuat dari kepingan plastik yang transparan. Di dalamnya berisi uang sumbangan pengunjung. Tak banyak uang didalamnya, hanya beberapa lembar pecahan Rp. 5.000,- dan Rp. 1.000,-

“Kami tidak mengutip retribusi apapun dari rombongan keluarga dan pelajar, kecuali bagi pengunjung dari kalangan instansi. Retribusi itupun tidak sepenuhnya untuk kami, sebagian masuk ke kas daerah,” ungkapnya.