Berita ini kami ambil dari harian Simalungun Pos, tgl. 16 Okt 2002.

Wisata Rohani Taman Eden 100 yang terletak di kawasan hutan alami desa Lumban Rang, Kecamatan Lumban Jul, Kabupaten Toba Samosir (sekitar 15 km dari Parapat menuju Tarutung) merupakan sebuah alternatif untuk melihat lebih dekat, potensi hutan dengan segala macam isinya, termasuk di dalamnya taman buah yang telah ditata rapi, yang menambah indah dan asrinya suasana hutan. Ditambah sejuknya iklim yang membuat para pengunjung dapat lebih nyaman berada disana. Taman wisata ini dikelola oleh Yayasan El-Shaddai yang dipimpin oleh Marandus Sirait (35), yang masih berhak atas areal tersebut karena memang merupakan lahan warisan turun temurun keluarganya. Sebelum mengelola taman wisata rohani ini, Marandus Sirait pernah mengelelola Les Musik Surgawi di P. Siantar yang beralamat di Jalan Asahan (Sp. Sambo) dan di Jalan Merdeka (depan Gereja Bala Keselamatan). Karena sebagai seorang seniman, Marandus memang menguasai beragam alat musik, khususnya musik-musik gerejawi.
Dengan komitmen melesatarikan alam, Marandus bersama beberapa temannya yang kebetulan para aktivis gereja, mulai terfikir untuk mengelola kawasan hutan alami yang masih memiliki koleksi beragam jenis tanaman dan pepohonan, juga masih dihuni beragam hewan-hewan liar. Apalagi dari sisi tofografi, kawasan hutan tersebut berbukit-bukit dan di dalamnya terdapat beberapa gua dan air terjun. Potensi ini yang mengundang Yayasan yang mereka bentuk untuk memikirkan pelestarian alam seluas sekitar 50 hektar dan mengelolanya secara profesional, yang tidak melupakan hakekat alamiahnya.
Dalam Taman Eden 100 ini terdapat sekitar 100 jenis buah-buahan, yang sebagian besar telah dapat dinikmati para pengunjung yang datang kesana. Selain itu, berdasarkan pengalaman sebagai aktivis gereja membuat mereka memproyeksikan kawasan hutan yang kemudian berubah menjadi Taman Wisata Rohani tersebut untuk tempat mensyukuri nikmat Tuhan atas anugerahNya kepada umat manusia. “Karena sebagai umat ciptaan yang diberi tanggung jawab untuk menguasai dan memelihara bumi ini, kita terpanggil untuk melestarikan hutan ini, bukan malah merusaknya. Apalagi disini banyak potensi alamiahnya yang dengan jelas dapat dilihat oleh siapa saja.” sebut Marandus seraya menambahkan bahwa di kawasan hutan tersebut terdapat objek wisata lainnya seperti: air terjun 7 tingkat, Gunung Pangulu Bao, Bukit Manja, Gua Kelelawar, Lokasi harimau, Rumah Tarzan, dan air terjun 2 tingkat.
Dari atas gunung Pangulu Bao tersebut para pengunjung dengan mudah dapat melihat pemandangan Danau Toba dan Pulau Samosir. Bahkan kota Rantau Prapat pun terlihat dengan sangat jelas, sebab ketinggiannya diperkirakan 2100 mdpl. Namun untuk mendakinya para pengunjung harus berada di lokasi selama beberapa hari dengan membuat kemah, apalagi untuk mendakinya dibutuhkan kesabaran dan keberanian tersendiri.
Belakangan ini Taman eden 100 makin ramai dikunjungi para wisatawan domestik maupun manca negara. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, para pengunjung sebaiknya memahami kondisi hutan yang masih alami dengan tidak melakukan hal-hal yang kurang simpatik atau kurang sopan, apalagi Taman tersebut diperuntukkan sebagai alternatif Wisata Rohani. Karena itu di sana terdapat sarana peribadatan dan ruang doa.
Leas Sirait (65), orang tua Marandus menjelaskan, sejak 31 tahun lalu, lahan tersebut telah mulai ia tata sendiri. Pada masa penjajahan Belanda, jalan setapak yang ada di tengah taman tersebut merupakan sebuah jalan tembus menuju Rantau Prapat, Kabupaten Labuhan Batu, yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 7 jam. “Kita harus menyaksikan kebesaran Tuhan melalui ciptaanNya dengan mengabarkan Injil kepada semua orang melalui Agro Wisata Rohani ini, sebagai sebuah tanggung jawab pelestarian alam sekaligus memproduktifkan lahan-lahan tidur sehingga memberi hasil bagi banyak orang”, ungkap Marandus yang juga merencanakan akan menambah koleksi pohon-pohonan termasuk tanaman langka. (silver silalahi/jl)