Tuhanlah yang maha kuasa, hidup mati manusia ada di tangan-Nya, namun kita tetap diberi kebijakan untuk berfikir dan belajar dari alam yang diciptakan-Nya.

Berita ini diambil dari :Koran Nias

http://korannias.wordpress.com

Tanggal : 04 Desember 2007Editor : Eduar Lase Ramalan demi ramalan yang berbau isu seputar bencana di bulan Desember 2007 semakin santer. Kalau beberapa waktu lalu yang berbicara tentang isu ini merupakan kelompok paranormal saja, atau juga para awam saja yang didasarkan pada hitungan kejadian lalu di mana sering berulang di bulan Desember, maka kali ini ini yang berbicara adalah: PENELITI LIPI !! Dan “ramalannya” adalah: “DESEMBER, GEMPA BESAR DI PADANG!!”Gempa dahsyat ini berpotensi terjadi di Mentawai Sumatera Barat. Gempa yang diperkirakan berkekuatan 9 SR ini diperkirakan menimbulkan gelombang tsunami setinggi 4 sampai tujuh meter. Guncangan gempa akan menggetarkan Bengkulu dan provinsi lainnya. Prediksi gempa 9 SR itu disampaikan ahli dari Pusat Penelitian LIPI Danny Hilman Natawijaya, Senin (3/12). Ia menyampaikan prediksi itu setelah mempelajari siklus gempa selama ini yang mengguncang Mentawai Sumbar.“Gempa kekuatan itu bisa dirasakan di Bengkulu dan Padang dengan kekuatan setara VIII MMI (Modified Mercalli Intensity) yang disusul dengan gelombang tsunami,” ucap Danny pada Seminar Geoteknologi “Kontribusi Ilmu Kebumian dalam Pembangunan Berkelanjutan” di Bandung. Gelombang tsunami di Padang akan mencapai ketinggian empat meter dan pergerakannya sekitar 1,5 kilometer dari pantai. Sedangkan untuk Bengkulu bisa lebih tinggi yang mencapai tujuh meter. Sejumlah pulau yang berada di seputar kawasan gempa akan tersapu gelombang tsunami, seperti Kepulauan Mentawai. Hal ini karena pulau itu lebih dekat pergerakannya dengan pusat gempa.Sumber gempa itu sendiri diduga di bawah Pulau Mentawai dengan kedalaman antara 20-30 kilometer. Perkiraan itu, kata Danny, terbukti dari saat gempa besar di kawasan Kepulauan Mentawai pada 12 September 2007 dengan kekuatan 8,4 SR. Gempa itu terjadi setelah rentetan gempa besar di Aceh dan Nias pada tahun 2004 dan 2005. “Gempa berskala 8,4 SR itu kemudian diikuti oleh banyak gempa susulan yang muncul sambung-menyambung di wilayah sekitar lempeng yang pecah. Yang mengagetkan, sekitar 12 jam kemudian, sebuah gempa besar lagi dengan skala magnitudo 7,8 SR kembali,” katanya.Gempa inilah yang banyak menimbulkan kerusakan bangunan di Kota Padang. Meskipun kekuatannya lebih kecil, tapi letak episentrumnya di sekitar Pulau Pagai Selatan yang lebih dekat dengan Padang. “Gempa ini sukar untuk diklasifikasikan sebagai gempa susulan, karena skalanya terlalu besar. Pada umumnya gempa susulan paling besar adalah satu skala di bawah gempa utamanya yakni 7,4 SR, bahkan lebih umum cenderung dua skala atau lebih di bawah skala gempa utama,” sebutnya. “Yang menjadi pertanyaan apakah ancaman dari rentetan gempa-gempa ini sudah berakhir? Kita semua berharap demikian, tapi data dan praduga ilmiah menunjukkan sebaliknya. Gempa raksasa yang “bertapa” sejak terakhir bangun di tahun 1797 dan 1833 ternyata belum sepenuhnya terusik,” jelasnya.Hal ini terlihat dari hasil “plotting” dari gempa-gempa yang sudah terjadi dan tampaknya baru melepaskan akumulasi energi yang terkumpul di bagian pinggirannya saja. Gempa yang bermula dari kakinya di ujung selatan, sekarang ini terlihat menyebar dan mengepung bagian badan dan kepala “sang raksasa”, yakni di bawah Pulau Siberut, Sipora dan Pagai. “Bidang sumber gempa di Mentawai itu 12-15 derajat yang setiap tahunnya terjadi pergeseran 5 centimeter. Untuk gempa antara tahun 1797-1833 telah terjadi pergeseran 10 meter. Setiap dihajar gempa, maka pergeseran itu akan turun,” jelasnya. Sumber: hg-ant