hutan-taman-eden-100.jpg

Wisatawan asing berminat tinggi melakukan penanaman tanaman langka di Taman Eden 100 di Toba Samosir (Tobasa), Sumut mengikuti tingginya minat pengunjung lokal bertanam di lokasi yang dijadikan kawasan hutan dan objek wisata daerah itu.“Selain membawa sendiri, para turis itu terkadang meminta petugas membelikan bibit tanaman langka atau pohon yang diinginkannnya untuk kemudian ditanam di kawasan Taman Eden, di daerah Lumban Julu sekitar tujuh kilometer dari daerah wisata Parapat,” kata Kabid Promosi dan Pelayanan Wisata Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya, Kabupaten Toba Samosir, Luat Simanjuntak, di Medan, Sabtu (23/6) lalu.Hariansib.com melaporkan, para turis mengaku senang melakukan penanaman tanaman di kawasan itu karena namanya serta tanggal, bulan dan tahun penanamannnya ‘diabadikan’ di dekat tanaman tersebut.Luat mengakui, banyak penanam pohon di Taman Eden 100 itu kemudian datang lagi beberapa tahun kemudian untuk sekadar melihat bahkan menikmati hasil tanaman yang ditanamnya itu.

Manajemen Taman Eden memang mewajibkan petugas membuat plang nama berikut jadwal penanaman pohon yang dilakukan pengunjung sebagai trik untuk menarik minat bertanam di kawasan itu.

Bagi warga yang berminat menanam di kawasan itu hanya diwajibkan membayar sejumlah uang yag untuk biaya tanaman dan plang nama penanam.
Manajemen juga menjaga dan merawat tanaman-tanaman yang sebagian besar berupa tanaman langka, katanya.Tanaman langka itu tidak hanya berupa pohon Kayu Jati atau Damar, tapi juga antara lain pohon Andeliman, sebuah tanaman yang buahnya dijadikan bumbu masak untuk makanan khas Batak seperti Arsik.Kepala Balai Benih Induk Hortikultura (BBIH) Gedung Johor, Dinas Pertanian Sumut, Dirjam Angkasa, mengakui, minat warga Sumut mengembangkan tanaman langka setiap tahun semakin tinggi.“Minat yang tinggi untuk mengembangkan tanaman langka itu ditandai dengan sudah mulai banyaknya warga yang meminjamkan tanamannya untuk dikembangkan dengan sistim kultur jaringan di BBIH Gedung Johor,” katanya.

Pohon Andeliman yang langka misalnya saat ini sedang dalam proses pengembangan, setelah seorang warga meminta BBIH Gedung Johor mengembangkannya dengan sistim bagi hasil. BBIH juga lagi mengembangkan bunga anggrek hutan dari Papua dan tanaman lengkeng untuk daerah dataran rendah.
Sumber: Hariansib.com

Senin, 25 Juni 2007 13:47.13 WIB
Harry – Wisatanet.com