logotaman1.jpg  

Laporan : Loxa Situmeang

Dimuat dalam Majalah “HORAS” Edisi : 82/V/Maret 2007.

Ditulis ulang oleh : Marihot Sirait   

Taman Eden 100 merupakan salah satu objek wisata favorit di Tobasa. Bukan hanya wisatawan domestik, wisatawan mancanegara juga kerap menyambanginya. Bagi Pemkab Tobasa, Taman Eden 100 dimasukkan sebagai salah satu objek wisata andalan, yang dikategorikan sebagai agrowisata dan ekowisata. Ide “penciptaan” Taman Eden 100 ini oleh Marandus Sirait untuk pelestarian alam dan mengentaskan kemiskinan. Sirait bangga atas prakarsanya, pada tahun 2005 dia menerima Perhargaan Kalpataru dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Di kawasan seluas 50 hektar akan ditemukan 100 jenis tanaman dan buah-buahan. Karena berada di lingkungan yang amat asri dan alami, Sirait pun memberi nama lokasi ini “Taman Eden 100”. Bisa diartikan, taman bak Taman Eden dengan 100 jenis tanaman dan buah-buahan. Taman Eden 100 bisa ditempuh dari Balige, ibukota Tobasa dan Parapat, Simalungun, kurang dari 1 jam perjalanan. Eden 100 berada di Kecamatan Lumban Julu – perbatasan Tobasa dan Simalungun – menuju Dusun Lumban Rang, Desa Sionggang Utara. Di sini juga dapat ditemukan air terjun 7 tingkat, gua kelelawar, rumah “Tarzan”, berbagai jenis anggrek, dan lokasi yang ideal bagi olahraga panjat gunung. Sesekali beruang mau turun ke sekitar air terjun, begitu juga harimau Sumatera. Berbagai jenis primata seperti monyet, beruk, dan mawas juga melengkapi nuansa alam yang masih perawan ini. Tadinya, lokasi di kawasan gunung Manja ini masih seperti alam pegunungan biasa. Namun, karena kecintaan Sirait si pemilik lahan terhadap alam dan hutan, pada tahun 1999 lokasi tersebut ditata sedemikian rupa, sehingga pada akhirnya dia menerima penghargaan Kalpataru sebagai penyelamat lingkungan hidup dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2005. Gunung Manja yang berubah menjadi taman memiliki fasilitas yang sering dimanfaatkan masyarakat dari berbagai daerah untuk berkemah. Untuk semalam, pelajar dikenakan biaya Rp. 2.000,- sedangkan umum hanya Rp. 3.000,- “Saya senang dan bangga Eden 100 bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Ini akan terus kami pelihara. Saya sangat mencintai Taman ini,” ungkap Sirait pada HORAS. Eden 100 bermula dari ketertarikannya pada Program Martabe (Marsipature Hutana Be) yang dicanangkan oleh Gubsu Raja Inal Siregar di masanya. Idenya memang cerdas. Gunung Manja yang dulunya tak begitu dikenal diciptakannya menjadi objek wisata. Camat Lumban Julu Oloan pane mengatakan bahwa kepariwisataan di daerahnya akan terus dibenahi. “Banyak objek wisata yang belum tersentuh dan dikenal orang namun lokasinya tidak kalah menarik dengan objek wisata yang sudah dikenal orang. Misalnya air terjun Margumis di Lumban Lobu dan makam Sipiso Somalim di desa Nagatimbul yang dominan dihuni marga Sidabutar,” katanya. Pemkab Tobasa sendiri, sebagaimana dikatakan Kadis Pariwisata Drs. Laurensius Sibarani akan terus mengupayakan pengembangan kepariwisataan di Tobasa. Selain objek wisata alam juga wisata rohani dengan melakukan napak tilas perjalan Apostel Batak, Dr. IL Nommensen mulai dari Barus, Sipirok, Salib kasih Siatas Barita, dan berakhir di makam Nommensen, Sigumpar.