Bagian ke-1

Laporan Jetro Sirait dari Tobasa, yang dimuat di Mingguan “Suara Simalungun”, 18 Nopember 2004.
Ditulis ulang oleh : Marihot Sirait di Palembang

   Pada masa jabatan Gubernur Sumatera Utara “Raja Inal Siregar” ada sebuah program (Martabe / Marsipature Hutanabe) yang dicanangkannya untuk mengajak para perantau untuk membangun kampung halamannya masing-masing, karena pada saat itu memang Tanah Batak sepertinya masih tertinggal karena tidak ada para pengusaha dan perantau yang telah berhasil yang berani menanamkan modalnya di tanah kelahirannya, hal inilah yang menyebabkan Tanah Batak menjadi tertinggal khususnya saat itu Tapanuli Utara (pada saat itu belum berdiri Tobasa).
   Akibat tertinggalnya Tanah Batak sampai-sampai penyanyi batak Jack Marpaung meluncurkan sebuah album lagu hitsnya yang berjudul “Peta Kemiskinan”, lagu ini mengajak para putra daerah Batak untuk kembali ke kampung halamannya untuk membangunnya dari ketertinggalan. Bukan itu saja, lagu “Arga Do Bona Ni Pinasa” diluncurkan oleh artis-artis Tanah Batak yang juga untuk tujuan yang sama. “Usahakan dan lestarikanlah Bumi” yang terambil dari nats Alkitab Kejadian 2 ; 15 yang mengandung pengertian bahwa bumi dan segala isinya adalah warisan yang tak ternilai yang telah Tuhan percayakan bagi kita untuk kita jaga dan lestarikan.

   Ketiga point di atas merupakan dorongan yang membuat Marandus Sirait yang pada saat itu berada di perantauan (Jakarta) untuk kembali ke kampung halaman karena menurutnya Tobasa (Taput pada saat itu) memerlukan jamahan dan bantuan dari para perantau yang peduli akan pembangunan Tobasa. Setiap kali pulang kampung dan melihat pesona alam dan sumber daya alam yang ada di dalamnya, hati dari seorang hamba Tuhan yang dulunya aktif melayani sebagai pemusik di gereja ini tergerak untuk memulainya meskipun hanya bermodalkan doa dan iman.
   Pada tahun 1998, Marandus Sirait mendirikan Yayasan “El-Shaddai” yang berarti Allah Maha Besar/Kuasa. Nama El-Shaddai dikutip karena menunjukkan betapa besarnya pertolongan Tuhan yang dirasakan olehnya selama ini sehingga dengan pertolongan tanganNya segala beban ditanggung olehNya.
   Target yang direncanakan oleh Yayasan El Shaddai adalah tahun 2020, dimana Taman Eden “100” sudah akan menyerupai taman eden seperti yang diceritakan dalam Alkitab dan hingga saat ini sudah berjalan pada tahun ke-5.
   Karena kegigihan dan semangat kerja dari anak muda yang terdaftar berjemaat di GKPB “Terang Pengharapan” yang digembalakan oleh Pdt. Drs. Ruddin Aruan SH ini pada tahun 2001 berhasil mendapatkan penghargaan sebagai KKA terbaik Tingkat Propinsi Sumatera Utara, bahkan karena kepeduliannya akan lingkungan putra dari Ompu Briyan Sirait yang juga ikut membantu agar cita-cita Taman Eden tercapai, Marandus sering mendapat undangan dari Dinas Kehutanan baik Tobasa maupun Sumut bahkan Tingkat Nasional yang menjadikan nama Marandus Sirait bukan lagi asing di telinga masyarakat pencinta Lingkungan Hidup dan Pariwisata.
   Dalam mengelola dan mengembangkan Taman Eden “100” memang banyak tantangan bahkan harus bayar harga (harus mengorbankan suatu hal), tapi justru itulah yang membuat program 100 pohon berjalan sesuai dengan rencana dan tidak tanggung-tanggung. Dinas Kehutanan dan Dinas Pariwisata Tobasa ikut membantu dalam terlaksananya program ini, dan ketika orang Inggris pada tahun 2003 berkunjung ke tempat ini terkagum-kagum akan keindahan pesona dari Taman Eden sehingga pernah mengusulkannya menjadi objek penelitian. (Bersambung)