Batam Pos : www.batampos.co.idKamis, 28 September 2006

Oleh: Riginoto Wijaya

Dalam perjalanan kami mengelilingi daerah Danau Toba, kami sempat singgah di suatu tempat yang mengundang keingintahuan kami. Namanya menggelitik.
Namun apa maksudnya jika dituliskan Taman Eden 100?
Nah angka seratus ini yang merangsang kami ngobrol lebih lanjut dengan penggagas lokasi Agrowisata Rohani ini, L Sirait.
Mengenai Taman Eden, secara bergurau saya mengatakan kepada anak saya yang pendeta itu, jika ia berkotbah, sampaikanlah jika kita tidak sanggup memenuhi persyaratan untuk sampai ke sorga kekal kelak, masih ada tempat alternatif bagi kita pergi, yaitu ke taman Eden ini.
Taman ini kami jumpai ketika kami bertolak menuju kota wisata rohani Tarutung.
Tetapi mengenai 100, kami terpaksa harus memasukinya. Di pintu tempat kami masuk, kami telah disambut sang pemilik yang berpakaian rapi dan ramah bak “manusia pertama” di Taman Eden.
Secara sepintas kami melihat pepohonan di sekitarnya dengan papan berwarna biru di setiap pohon tersebut.
Nah di situlah kami memulai percakapan kami.  Tempat unik apakah ini?
Apakah kami akan menemukan sebuah kategori produk baru dalam hal tempat wisata?  
Menjawab pertanyaan kami, Bapak Sirait ini mulai menjelaskan bahwa di tamannya yang luasnya 30 hektar yang terletak di daerah yang klimatnya sejuk ini terdapat 100 jenis pohon berbeda. Semuanya terdiri dari pohon buah-buahan! Wow, dapatkah Anda menyebutkan 100 nama buah-buahan?

Kemudian dari manakah ke seratus pohon itu berasal? Menanam semua itu sendiri tidak murah bukan?  Jawabnya: gotong royong.
Ini seolah ingin mengatakan sebuah nilai, kita manusia bersama-sama dipanggil untuk membangun dunia seperti itu.
Setiap pengunjung yang berminat dapat menanam pohon buah di tempat itu.
Ia dapat menentukan jenis pohon buah tertentu yang ingin di tanamnya, menitipkan uang atau menitipkan bibit pohon tersebut di tempat itu. Jika pohon itu sudah berbuah, maka pemiliknya dapat datang dan memetik hasilnya. Hak ini juga diberikan kepada keluarganya, anaknya dan cucunya.
Keluarga Sirait beserta beberapa dari 10 anak-anaknyalah yang berkomitmen akan memelihara sampai pohon ini menghasilkan buahnya.
Kami sempat melihat sebuah pohon jeruk di hadapan kami yang lebat dengan buah, tanaman pribadi Sirait. Sayang buahnya belum lagi masak.
Nah di setiap pohon yang disumbangkan dituliskan jenis pohon buah apa, tanggal kapan pohon itu ditanam, siapa pemiliknya dan darimana asalnya mereka.
Saya langsung berpikir bagaimanakah saya dapat mengubah angka 100 menjadi 101. Pohon buah apakah yang belum ada di sana?
Saya juga mengusulkan agar dibuatkan buku kecil berisikan daftar nama buah yang telah ada, supaya saya dapat dengan mudah mencari jenis buah baru yang belum ada.
Sesuai dengan nama kategorinya, tempat agrowisata rohani ini juga menyediakan fasilitas untuk melakukan acara rohani seperti camp, retreat.
Lokasi ini dipilih juga karena di situ ada air terjun 7 tingkat yang dapat dinikmati untuk mandi, berenang dan santai melepaskan ketegangan sehari-hari.
Dari bukit yang cukup tinggi ini, kita dapat pula mengagumi panorama alam indah Danau Toba nan luas itu beserta pulau Samosir-nya. Bagi penggemar panjat tebingpun tersedia fasilitasnya.
Beberapa binatang hutan seperti kijang, kera dan monyet juga melengkapi area khusus ini.  
Konon kabarnya ada pula harimau Sumatera asli dan beruang yang tinggal di habitatnya sekitar 2 – 10 km dari lokasi dimana kami berdiri!
Akhirnya, buat kami sebagai wisatawan nusantara, tempat rekreasi yang dikemas secara unik dan berani tampil beda ini, yang tidak sekadar meniru apa yang ada di tempat lain dan belum pernah dijumpai di tempat lain, selain memberikan kesan dan pengalaman bermakna tersendiri dalam benak kami, ia mampu memberikan insiprasi.
Inilah sebuah contoh spiritual & experiential marketing yang ditargetkan mendapatkan pengalaman spiritual pengunjungnya.
Pengunjung mampu diingatkan sebagai manusia untuk bersama-sama berpartisipasi memelihara bumi yang kita diami agar kita senantiasa diberkati dengan hidup yang berkelimpahan dengan damai sejahtera.
 

Riginoto Wijaya MSc
IMA Chapter Kepri.