gr-l-sirait.jpgTulisan asli : INSIDE SUMATERA (tourism & lifesyle magazine) Edisi : 84 / Juni 2007   Teks oleh : Tikwan Raya Siregar

Kami menemukan lelaki tua ini di sebuah rumah sederhana di tepi hutan. Tempatnya cukup terpencil dari rumah-rumah warga lain. Waktu itu malam sudah sedemikian menggigit di Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Toba Samosir. Angin turun menyertakan kabut dari puncak Bukit Barisan, sehingga tanah di lembanh Danau Toba itu basah.

“Bermalamlah disini, besok kalian bisa berangkat setelah makan lappet batak dan kopi,” katanya. Kamipun bergelimpangan diatas lantai beralas kasur sederhana. Meski letih nyatanya tak seorang pun bisa tertidur hingga tengah malam. Obrolan hangat dengan Pak Leas Sirait ternyata jauh lebih mengasyikkan ketimbang bantal.

Dari arah dapur terdengar gemericik air tidak pernah berhenti. Mulanya kami sedikit terganggu karena membayangkan air yang seakan-akan terbuang percuma. Inilah salah satu kemewahan di dalam rumah sederhana ini. Kami tak pernah takut kekurangan air. “Ini semua gratis dari Tuhan,” terang Pak Leas Sirait.

Air itu mengalir dari gunung sepanjang waktu, dari akar-akar kayu besar dan hutan tua di bagian atas. Sejuk sekali. Sepertinya petuah “siapa yang menanam, dialah yang menuai,” berlaku untuk Pak Leas. Selama puluhan tahun, lelaki Batak ini menanami berbagai macam pohon untuk tujuan yang bagi sebagian orang barangkali tidak masuk akal. Menanam pohon di hutan? Pohon-pohon itupun dia tanam bukan untuk ditebang dan menghasilkan duit, meskipun harganya sangat mahal. Pak Leas malah akan gusar bila ada orang yang mencoba melakukannya.

“Saya ini orang bodoh, makanya tidak bisa kaya …ha…ha…ha…” ungkapnya dengan nada satiris. Hanya sedikit orang yang memahami nada kemenangan di balik ucapannya itu. Memang banyak “budak uang” yang menganggap Pak Leas terlalu bodoh karena tidak memanfaatkan kayu-kayu tanamannya menjadi uang. Ngapain hidup pas-pasan kalau uang ada di depan mata?

“Ya, mereka sebenarnya tidak tahu apa yang saya nikmati disini,” kata Pak Leas. Kebanyakan orang memang tidak sadar bahwa Pak Leas sudah menerima keuntungan yang jauh lebih besar dari alam ketimbang tumpukan uang seperti yang mereka bayangkan. Dia diberi air bersih murni tanpa limit dan kaporit, dimana orang-orang kaya di kota harus berhemat dan menghitungnya dalam rekening tagihan tiap bulan. Itupun bukan air bersih yang sehat.

“Kami juga menghirup udara yang sangat nyaman tanpa asap. Saya hidup sehat, dan tidak membutuhkan banyak biaya untuk Rumah Sakit. Ini adalah anugerah Tuhan. Hutan dan pohon-pohon yang saya pelihara adalah kemurnian dan keindahan yang tak perlu diubah-ubah lagi. Itulah sebabnya kami menyebutnya Taman Eden,” papar Pak Leas.

Sejak kecil, pak Leas memang punya ketertarikan khusus yang jarang dimiliki orang lain. Entah bagaimana, dia sangat takjub menyaksikan pohon-pohon besar di hutan. Dia senag berkhayal di bawahnya dan hampir setiap hari pergi jauh ke dalam pelukan rimba. Sendirian. Waktu itu harimau bahkan masih banyak berkeliaran disana. Tapi tak seekor pun yang mengganggunya, meski terkadang aumannya terdengar dekat sekali.

“Pohon yang paling saya sukai di hutan ini adalah sappinur tali. Pada saat gugur, daunnya rontok semua dan tanah di bawahnya menjadi empuk. Dahan-dahannya seperti mati dan menampilkan pemandangan yang sangat eksotis karena tanpa daun,” paparnya seakan-akan sedang berada dalam suasana yang ia bayangkan itu.

Orang Samosir menyebut sappinur tali dengan kayu raja. Konon, pada zaman dahulu, hanya raja yang boleh menebang kayu ini. Batangnya dipakai untuk membuat berbagai ukiran dan aksesoris kebesaran raja dan keluarganya. Selain sappinur tali, masyarakat Tanah Batak juga mengenal beberapa macam pohon lain yang terkait dengan legenda. Misalnya, piu-piu tangguli. Kayu ini berduri ketika masih muda. Para raja membuatnya menjadi tunggal panaluon, semacam tongkat simbolik yang diukir dengan ketentuan magis. Tongkat ini dipercaya berkhasiat sebagai penagkal bahaya dan penakluk (panaluon) musuh.

“Kayu-kayu tersebut sudah langka dan sebagian hanya terdapat di hutan ini. Saya bangga karena beberapa jenis pohon asli disini sudah mulai diteliti. Misalnya pohon andaliman yang dipakai orang Batak sebagai sambal khas,” tutur pak Leas.

Karena kecintaannya pada hutan, Pak Leas membuat satu rumah pohon yang cukup tinggi di lereng bukit. Bangunan kayu yang menempel di beberapa batang pohon hidup itu ia namai Rumah Tarzan. Dari sana para pengunjung bebas menikmati panorama Danau Toba dan lembah-lembah hujau nan indah. Mereka tidak diminta bayaran, tapi cukup disentuh hatinya untuk memberikan sumbangan suka rela demi kelestarian lingkungan.

Taman Eden sendiri hanya berupa 50 hektar tanah ompu (warisan keluarga)  yang berbatasan langsung dengan hutan lindung milik Negara. Meski kepemilikannya hanya 50 hektar, tapi Pak Leas tidak pernah hitung-hitung soal menanam. Dengan senang hati, ia juga menanam pohon di hutan lindung milik negara tanpa meminta imbalan apapun. Ia tidak mengerti istilah reboisasi dan tidak pernah tahu berapa trilliun dana yang digelontorkan pemerintah untuk mendanai proyek yang mirip seperti pekerjaannya. baginya, tidak perlu uang untuk menanam kayu.

“Pokoknya saya menanam terus-menerus. Satu hari, saya bawa satu bibit ke hutan. Menanam itu tak ada ruginya. Hasilnya bisa dinikmati semua orang. Siapapun boleh menikmati hutan ini, asal jangan mengganggu tanaman. Mereka boleh makan buah-buahannya, asal jangan makan bersisa. Saya memang sering menerima godaan dari pihak lain untuk menjual kayu-kayu hutan ini, termasuk dari orang-orang PT. Indorayon dulu. Tapi saya sudah bersumpah, selagi saya masih hidup, tak sebatang pohon pun boleh ditebang di Taman Eden dan Hutan Negara,” tegas Pak Leas.

Karena keanekaragaman hayatinya yang terjaga, banyak orang Eropa dan Jepang yang tertarik meneliti hutan ini. Disini terdapat pohon-pohon tropis yang tidak ditemukan di daerah lain. Taman Eden sendiri tercatat sebagai penyumbang pohon untuk koleksi penting di Kebun Raya Bogor.

“Pemerintah daerah pun mulai menghargai pekerjaan saya dan mereka memujinya. Tapi saya bilang, lebih baik kalian mendoakan saya agar tetap sehat dan mampu melakukan pekerjaan ini lebih banyak lagi,” katanya.

Pak Leas Sirait lahir pada tanggal 16 Juli 1937. Semasa kecil, masih jelas dalam ingatannya bahwa hutan Bukit Barisan di atas perkampungannya pernah menjadi kawasan yang cukup ramai. Taman Eden sendiri menjadi semacam pintu keluar bagi para pejuang dan warga yang melakukan perjalanan dari Medan ke Padang Sidempuan, karena mereka harus menghindari ketatnya pemeriksaan pos tentara Belanda di Siantar. Sedangkan di sekitar Taman Eden, pihak tentara pejuang RI yang mendirikan pos untuk memeriksa semua pelintas hutan.

Setelah menamatkan Sekolah Guru B, Pak Leas mengajar di SD. “Saya suka mengajar. Tapi hal yang paling saya benci menjadi Guru adalah persoalan kepangkatan. Guru-guru lain bisa cepat naik pangkat karena mengurus dan membayarnya. Saya sendiri sangat kesulitan untuk naik pangkat karena saya tidak pernah mau membayar. Menyogok adalah hal yang paling menjijikkan bagi saya. Padahal waktu itu saya terpilih sebagai guru teladan,” katanya sedikit emosi dengan mata yang menyala di bawah alisnya yang tebal dan keras.

Pada tahun 1963, Pak Leas Sirait bersama 20 orang tua, mulai menanam pohon di Taman Eden. Waktu itu motif mereka masih sebatas menandai lahan keluarga (tano ompu) agar tidak diserobot pemerintah dan pihak lain yang sangat agresif mencari keuntungan.

Karena kekuatan hatinya, hutan di sekitar Desa Sionggang Utara tetap lestari hingga sekarang. Kini siapapun bisa menikmatinya dengan mengunjungi Taman Eden 100. “Asalkan punya niat baik untuk menjaga hutan, saya sangat senang menerima siapa pun disini. kami juga sangat terbuka pada investor, asal usahanya berwawasan lingkungan. Mereka boleh mendirikan penginapan atau hotel disini. Saya malah bisa membantu menyediakan kayunya tanpa merusak hutan. Silakan ambil semua sewa hotelnya. Kalau untung, cukup kasih saya minum kopi,” ungkapnya dengan tulus.

Nama “Taman Eden 100” memiliki pengertian bahwa taman tersebut memiliki keindahan yang tidak perlu diutak-atik lagi (alamiah). Angka 100 disematkan di belakangnya karena taman ini menyediakan 100 jenis pohon yang dapat dimakan buahnya untuk dinikmati para pengunjung.

Saat ini, kebanyakan orang datang ke Taman Eden untuk melakukan trekking, turut menanam pohon, kebaktian di alam bebas, mandi-mandi di bawah air terjun, menikmati panorama dari atas bukit, dan sejumlah kegiatan lain. Tapi yang tak kalah asyiknya adalah meyelenggarakan pernikahan di tengah taman. Bayangkan, sepasang pengantin melakukan pesta taman, dan mereka menanam dua pohon sebagai lambang cinta yang terus tumbuh. Suatu kelak, mereka akan kembali kesini dan menunjukkan kedua pohon itu kepada anak-anak mereka. Ah, romantis sekali!

Terima kasih untuk “Inside Sumatera”, bagaimana nih situsnya kok belum launching? Semoga jaya selalu. Horas…!