Kumpulan puisi-puisi hasil karya Putra Taman Eden “100″ , Mikael Sirait (EMIX-Rait).
“ PUISI DARI SORGA “
Hinggap di langit
Dibawa oleh hati yang paling merah
Yang tak padam,
Yang tak dingin
Dan pasti kugenggam
Ditulis terbuka
Dimakna rahasia
Butuh aku sayap
Menjemput ilham
……………………pada bias-bias awan senja
Dari manakah ia,
Pembawa huruf-huruf Latin
Penggali lorong-lorong Batin
Sedekat pelangi di kejauhan?
Dari Sorga;
Paragrafku
Luruh ke mayapada
Ilalang dan rama-rama memujanya
Sedang aku,
Melukisnya tanpa pena
Meninggikan segala lembah untuk menghadangnya
Di datang tak’kan pergi,
Di ada tanpa hilang
Harus aku kertas kosong
Untuk menangkap setiap baitnya
Dengan tanda tangan sekecil-kecilnya
(Bila harus kenalkan diri)
Langit siapah itu,
Awan siapa,
Bias dan Mayapada?
Yang ditulis,
Yang dilukis dan
Tak terbantah oleh tangis
Pada kekalahan yang sangat berharga
Aku dituntun sebuah ledakan
Bertanya – dan
Menjawab
Dari manakah ia,
Bacaan jiwa yang menDewa
Peranan khayal yang tak gagal
Setinggi Mercurius di dasar hati?
Dari Sorga;
Puisiku
“ PUISI DARI GUNUNG “
Sekembalinya burung jalak
Dari Timur yang getir
Aku adalah pendaki sepi
Dikemudikan ribuan haluan
Mendaki cermin buram
Dari kejaran 500 km/jam
Aku pilih tinggal
Dan menginap
Dengan jiwa yang berlari-lari
Dan bayang-bayangku buruk gelisah
Yang mengetuk tenda
02.30 dini hari
adalah nyala api yang membara
mengaku kunang-kunang
kubuka pintu, hatinya tidak
dibukanya pagi
lalu malamku sia-sia
Oh, … Tuhan
Yang berdiri dibawah pohon pakis
Pinjamkan padaku pedang samurai
Hendak kubunuh petualang di jiwaku
Ada matahari yang menabrak malam
Saat seseorang meminta puisi
Dan biar ……………
Bulan sabit harus disembah lagi
Saat aku memberi puisi
“ HIGHEST “
Telah kuperhatikan dengan
Seksama
Setahun;
Warna daun misterius ini tetap
Hijau
Dan jumlah bintiknya 80
Itu berarti
Aku sulit lepas dari hal-hal kecil
Dan perasaanku sangat sensitif
Karena aku dilahir besarkan
Oleh kesepian yang tangguh
Bila aku termeditasi pedih,
Jangan kirimi aku sugesti
Lagu-lagu Hip-Hop
Tapi rahasiakan denganku
Pesona warna pink lembut
Di bunga Cattleya
“ DARI KURSI PENANTIAN “
Tamu pertama pagi itu ;
Jiwa yang terpesona melihat
Kembang seribu tahun
Tujuan hening dia punya
Batu apung teman mainnya
Jadwal pedih ditinggal jauh
Ikan kecil dia pelajari
Lumpur yang dangkal dia terimakasih
Oh, … air tenang yang disenyumi
Siapakah dia
Yang membuatku takut pukul 18.00 WIB
Gadis yang berdiri di pancuran
Hendak kutikam dengan cinta
Kupandu menghindari duri rotan
Dan menambah jumlah
Langkah hati-hatinya
Karena kehadirannya ;
Hujan pertama di musim kemarau
“ KUTITIP SAJAK BUAT PENDAKI “
Kemari Efa !
Ke mata air abadi
Mencari pasir paling putih
Tuk dijadikan kado Camping
Tunjuk satu ranting
Kan kubaya mahal sebagai
Perhiasan kamar
Kemari Adam !
Ke batu cadas yang terjal
Menghitung jejak kijang
Atau berapa kekuatan di kaki
Pilih satu jurang
Dilompat demi harta karun
Tentang langit Merah-Orange
Kita debat di puncak gunung
Tentang daun yang berguguran
Kita tangisi menjelang tidur
Selamat pagi capung hijau liar
Apa khabar makhluk-makhluk tak bicara?
“Lestari !” semoga jawabmu
Adam, …
Boleh berlari, boleh merdeka
Tapi kuncup mawar
Harus dimekarkan
Efa, …
Tangkap kunang-kunang
Simpan di gelas kesayangan
Dan ingat dilepas
Agar malam berikut cahayanya tak hilang
Di pinggir air terjun
Terjemahkan celcius rendahnya ;
“ Aku hanya takut,
Bila esok bangun pagi
Tak mendengar burung-burung berkicau
Dan tak melihat kupu-kupu beterbangan
Di bawah pohon cemara
Tetaplah mengisi diary
………, tgl 1 sampai selamnya ;
“ karena alam begitu indah,
Maka kami Mendaki ”
“ SAHAJA SAJA “
Di lumut abadilah
Kutanam kesungguhan berdarah
Tak perlu eidelweis,
Tak perlu cincin emas
Untuk janji paling sakral
Membuktikan kemiskinanku,
Kucium jejak kakimu
Yang terkepung di Roh – Batinku
Savana,
Disana aku sutradara
“ 7 anak kecil
berlomba menangkap capung merah,
7 anak lainnya
tak berhasil mengerti maksudnya “
Itulah konotasiku
Tentang damai, cinta dan
Kesempurnaan.
“ 100 KM DIAM ”
Aku dikelilingi bunga-bunga
Setiap hari,
Tapi hidupku jarang tersenyum
Aku dihibur oleh kicau burung
Setiap pagi,
Tapi aku sulit untuk bernyanyi
Aku di dataran tinggi
Setiap langkah,
Tapi hatiku jauh di dasar laut
Semua itu karena sehelai daun
Yang jatuh tak sengaja
Beberapa hari sebelum waktunya untuk layu
“ANDUNG-ANDUNG NI SESE SIAN DOLOK NA MARSAEMARA”
(Keprihatinan seekor serangga atas kerusakan alam)
Ditulis Oleh : Michael Sirait
Tanggal : 19 Mei 2008
Di : Taman Eden “100″
Tano nanimiahan do sian mulana.
Tarulang tubuan hau dohot duhut.
Siparo ngolu-ngolu.
Sijadi-jadi do nasumuan gadong,
Jala sigabe-gabe namamutik ingkau rata.
Di rura marsurak sipahut,
So mansohot endeni siburuk.
Di pussu tarambe mare-mare,
Di bona marbalum limut na potpot.
Marsulam angka gorga ilik,
Martonun tampiogung.
Uli mansai uli Sisik ni portibi.
Di laon-laon ni ari tarpinsang ma ula-ulani manisia,
Jala taruhum sangkap-sangkapna.
Begema andung-andunghu ale huta desa na ualu.
Sibigo nga didia?
Endena so hea be.tarbereng au,
Sitapi-tapi marhoi-hoi mangalului sihapor na metmet,
Diririti nasa na tardas.
Ompu ni balang ai nunga mandele mamopari.
Sampuran i nga hohom.
Batang aek pe nga marsik.
Tudia ma patiaraja molo naeng martapian?
Bulung-bulung dang be rata-rata,
Ia bulu bolon dirgak ma i somarimpola.
Sai marungkil anggo lali,
Hulis-hulis mandiori parlinggoman,
Di naloja mangareap.
Uas ni aru-aru losokni holi-holi,
Ditariashon siboru tasik sian gadu-gadu naung sega.
Diauhon angka dorbia namale di adaran.
Dohot do onggang gale-gale di ranggasni halembang.
Di dia ho ale ombun nasumorop,
Sipabornok nasa ladang?
Tu tano na mabugang manang tu langit namarrimas,
Bunga ni ri sungkot so marhasoan.
Andigan do hamu mulak angka pidong sigak naung lilu?
Pea hatubuan ni baion pe dang ra jumpang ni rimbur sirara.
Malos sihala dipargulang ni hau nabolon.
Halibintoa sai lalap tarpaima dipangeol ni sileang-leang mandi.
Nasai laon tung dame do nasida molo dung rimbus mareak potang ari.
Ahu di pussu ni dolok,
Tarilu-ilu songon natarseat sambilu,
Paida-ida hasesegani tarombo ni tano on,
Paihut-ihut pardalan ni sigarguak na marsiak bagi.
Angka loba ma mangapuli ahu di na tangis jala marsak.
Diboan do di au sari ni bunga gaol naung soada martonggi.
Ahu sese na metmet,
Mangandungi ganup ari.
(Taman Eden “100”)
Rabu, 14 Mei 2008 pukul 10:12 am
Horas bah,
Mengapa tidak nambah2 puisinya ?
Dimana puisinya Michael yang ber-buku2 itu ? Jangan disimpan2 aja, nanti berdebu ate. Gabe loja mangumbusi abu-i annon.
Horas
Par-Lumbanrang yang lagi di Batam
Kamis, 15 Mei 2008 pukul 2:37 am
Horas Par-Lumbanrang,
Iya nih, puisinya sedang dijilid dulu supaya rapih, he he …
GBU
Rabu, 18 Juni 2008 pukul 12:49 pm
Horas ….. par-lumbanrang salam sian au pangaranto di jakarta huta hatubuan di lumban lobu jonokkonni lumbanrang.
Rabu, 18 Juni 2008 pukul 1:02 pm
Puisinya bagus.
Kamis, 19 Juni 2008 pukul 7:03 pm
Horas Lina,
Alumni SMP Lumban Lobu ? Kenal ibu guru kakak beradik MSB dan RS ? Aku suka nginap dirumah mereka kalau main ke Lumban Lobu dulu.
Kalau lagi pulang kampung, mainlah ke Tamaneden100 ini. Nanti Lina akan jumpa si penulis puisinya dipintu gerbang taman itu. Lina bisa minta puisi disana. Masih lajang, cakep….
Ampun tulang, kabur ach, ntar pujangganya melotot lagi, hikh…hikh…
Peace
Par-Lumbanrang