• SELAMAT DATANG

    Taman Eden "100" adalah sebuah Agro Wisata Rohani yang berada di Desa Lumban Rang Kec. Lumban Julu Kab. Toba Samosir, Sumut (16 km dari Parapat / 40 km dari Balige). Motto Taman Eden "100" diambil dari Nats Alkitab : Kejadian 2 ; 15 "Usahai dan Lestarikanlah Bumi". Email : sirait@plm.newship.co.id.
  • Pilih Kategori

  • Visitor :

  • Komentar Anda :

    Tagam Sadari di Magnet Parapat di Hari Raya Id…
    Herti Manik di Magnet Parapat di Hari Raya Id…
    luthfi di Tahul-tahul
    LATIFA di Tahul-tahul
    LATIFA di Tahul-tahul
    Jonsir di Tahul-tahul
    Budi di Tahul-tahul
    albert di Album
    Harison sihotang di About
    risza setiawan di Album
  • Perangkap

  • Meta Boo

  •  

    November 2009
    S S R K J S M
    « Agu    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

Menggugat Seni Lagu Batak

Oleh : Muksin Stephane Siraitmuksin-avatar1

Saya pernah ditanya oleh seorang teman yang bukan orang Batak dan pertanyaan yang sama juga pernah ditanyakan oleh teman orang Batak, pertanyaannya begini : “kenapa lagu Batak kok musiknya begitu–begitu saja? Sambil dia menirukan bunyi seruling yang dia maksud yang mungkin tanpa sengaja sering terdengar oleh dia. Pertanyaan sederhana dan menggelitik bagiku, tanpa berpikir aku langsung menjawab “kalau nggak begitu bukan lagu batak namanya”. Itu sudah lama, dan saya pun tidak tahu jawaban saya saat itu sudah tepat atau tidak. 

Namun sekarang pertanyaan itu muncul lagi, tapi bukan dari orang lain, melainkan dari diri saya sendiri. Atau mungkin pertanyaan yang sama juga akan muncul di era generasi saya atau setelah saya. Pertanyaan yang sedikit menggugat yang oleh sebagian orang akan dijawab dengan tindakan untuk tidak lagi mendengarkan atau antusias dengan lagu Batak. Ya,, termasuk saya, mungkn akan memilih untuk mendengar dan mengoleksi lagu-lagu yang lebih “berselera”. satu atau dua lagu mungkin masih terkoleksi hanya sebagai penentu identitas saja.

  

Berbicara tentang lagu Batak yang dalam artian umum adalah lagu yang tersajikan dengan bahasa kita bahasa Batak dalam ruang dengar kita, didalamnya terdapat dua hal yang mendasar atau bahkan lebih.

Yang pertama adalah lagunya sendiri atau yang kita sebut lirik, dan yang kedua adalah instrumen atau musik yang mengiringi lagu tersebut. Dan yang lain sebut saja penyanyinya, notasi, irama atau visual (bagi kemasan lagu yang disajikan dalam format audio visual).

 

Sebagai hasil karya seni, saya sangat menghargai dan apresiatif banget untuk para pencipta lagu-lagu Batak dengan kumpulan lagu-lagunya. Sebut saja Nahum Situmorang dengan romantisme dan seluk-beluk kehidupan juga penokohan dalam lagu-lagunya, Mester Tilhang Gultom dengan kepolosan bahasa dan bahasa yang apa adanya, atau S.Dis dengan eksotisme kedaerahanya, atau Dakka Hutagalung dengan falsafah-falsafah hidupnya, juga pencipta –pencipta yang lain atau yang kemudian, masing-masing dengan gaya bahasanya, masing-masing dengan nada-nadanya, masing-masing dengan ungkapan-ungkapannya. Bagi saya itu adalah seni sejati, artinya sesuatu yang bisa kunikmati dan kuterjemahkan dan yang tidak mungkin (pernah) terpikirkan atau (untuk)  kukerjakan.

          

Namun sangat disayangkan,bahwa apa yang kita dengarkan dalam ruang dengar kita tentang lagu Batak begitu berbeda dari apa yang kita harapkan. Lagu-lagu tadi yang konon sarat dengan nilai seni dari penciptanya hanya disajikan dengan rasa yang sangat tidak mengundang selera. Saya mungkin akan sangat setuju dengan kata teman saya tadi “begitu-begitu saja”. Ibarat sayur kurang garam, tentunya hambar, atau seperti sayur hanya dengan garam. Bagi saya lagu dan musik  itu adalah satu kesatuan dan keharmonisan seperti sayur dan garam. Namun tentunya sayur dan garam saja tidak cukup.., semestinya diolah sedemikian rupa, ditambah bumbu ini dan itu hingga menjadi kesatuan rasa yang sempurna ketika disajikan. Bayangkan jika kita  makan sayur hanya dgn garam saja, apa rasanya??? Demikian juga dgn lagu Batak, semestinya dikerjakan, dikemas dan disajikan dalam kemasan yang penuh sentuhan rasa hingga sempurna dalam ruang dengar kita.

    

Mungkin saya tidah terlalu paham betul tentang musik, tapi saya bisa  simpulkan, bahwa musik yang saya dengar dari kebayakan lagu Batak adalah musik yang imitatif, musik yang hanya diproduksi dan dihasilkan oleh mesin digital. Musik yang seolah olah : seolah-olah gitar, seolah-olah bass, seolah-olah drum dan yng lainnya. Dan itu sudah berlaku dalam  kurun waktu sejak 20 atau 25 tahun yang lalu dan sampai sekarang. Artinya, dari sejak saya masih kanak-kanak sampai sekarang, musik yang saya dengar dari lagu-lagu Batak adalah itu-itu saja, begitu-begitu saja. Waktu yang menurut saya sudah terlalu lama tanpa perubahan, dan waktu yang sudah terlalu lama untuk seharusnya tidak begitu-begitu saja.

 

Terlalu awam mungkin bagi saya, tapi saya sangat ingin menikmati sentuhan musik yang asli  ketika mendengarkan lagu-lagu Batak. Saya ingin menikmati sentuhan petikan-petikan gitar, kokohnya suara bass, atau hentakan dan emosinya bunyi drum, hangatnya suara trumpet yang tidak tertirukan oleh mesin apapun, untuk kita bisa mengartikan dan menerjemahkan pesan-pesan lagu dari para pencipta lewat bahasa-bahasa sejati musik. Meski diakui bahwa untuk itu diperlukan waktu, biaya, skill atau pengorbanan yang tidak sedikit, namun saya yakin, sebuah karya seni akan lebih berharga dan dikenang karena proses, history dan sentuhan-sentuhan yang ada di dalamnya, sejati akan melahirkan abadi.

 

BRAVO LAGU BATAK

2 Tanggapan

  1. Horas bang

    Tulisan ini sangat bangus sekali…

    boleh kah aku unduh tulisan ini, untuk disebarkan buat yg lain??

    Makasi sebelumnya bang

Tinggalkan Balasan