Oleh : Muksin Sirait
Ada keheningan yang begitu nyata ketika bunyi taguk-taguk itu mulai terdengar, seperti sebuah irama yang memaksa kita untuk mengikutinya, samar-samar jelas, seperti terdengar bukan jauh, tapi dalam gema benak kita saat itu kita bisa dengan jelas mendengar sebuah pesannya…DIAM.
Diam, dalam arti yang dalam, diam yang tak terbantahkan, karena suara-suara yang lain seolah tenggelam oleh bunyi taguk-taguk yang angkuh bertengger di ranting pohon yang tertinggi itu.
Siang itu cerah seperti siang-siang yang lain, waktu itu tepat seperti waktu-waktu sebelumnya, saat matahari tepat berada diatas bumi menurut waktu alam. Saat itulah kau akan mendengar bunyi taguk-taguk menyuarakan pesannya, pesan sederhana…untuk kita sejenak merefleksikan diri dari aktifitas sejak tadi pagi, sambil menunggu matahari apakah akan condong ke barat atau kembali ke timur? Yang Maha Kuasalah yang lebih tahu dan bertanggung jawab akan hal itu.
Seolah menanti keputusan alam, dan bunyi taguk-taguk itu serupa hitungan detik-detik kepastiannya, diam adalah jawabannya, enggan adalah kenyataannya. Masing-masing sunyi, masing-masing sepi, bahkan angin seperti enggan untuk bergerak bahkan satwa-satwa enggan untuk mengedipkan matanya. Kau jangan bertanya tentang apa yang kupikirkan saat itu, andai kau paksa, jawabku pasti “tidak ada”. Dengarkan saja, pahami saja, bukankah bunyi taguk- taguk itu sudah melebihi jawaban?
Waktu memang berjalan lambat disini, tapi alam akan selalu tepat waktu artinya tidak pernah terlambat. Tidak perlu mengejarnya seperti yang kau lakukan di kotamu, mengejar malam, mengejar pagi, mengejar mimpi, namun selalu ketinggalan… Tunggu saja di sini, sebab lihatlah…. daun-daun hijau sudah mulai bergoyang, tersentuh angin yang mulai bergerak perlahan mengusik keengganan siang itu. terdengar olehmu bahwa samar-samar bunyi taguk-taguk itu mulai meredup, tenggelam oleh suara angin dan riuhnya kicau kecil itu. Sekejap saja keceriaan alam telah kembali. Kau dan aku akan kembali bercerita, tentang burung kecil yang ketakutan melihat ulat biru yang besar itu, juga tupai liar yang malu-malu mengintip di balik pohon. Kau tak perlu bertanya tentang mereka, sebab sama seperti kita, mereka juga adalah makhluk hidup, yang harus bekerja, berjuang, mengumpul sedikit bekal untuk dibawa pulang, sambil mengisi dan menunggu waktu menjelang senja, untuk kembali sunyi, untuk kembali diam dalam keheningan didinginnya malam.
Waktu memang berjalan lambat disini, namun disini waktu tidak pernah terlambat.
tamaneden 100
Feb 08.
Oleh : Muksin Sirait
NB :
Taguk-taguk adalah nama burung, sama seperti sese atau hernga atau satwa lainnya yang selalu berbunyi pada saat-saat tertentu, oleh orang-orang batak sering diartikan sebagai penanda waktu
DIarsipkan di bawah: Muksin Sirait | Tagged: Muksin Sirait, refleksi, taman eden 100


Bersyukurlah masih bisa mendengar suara alam. Membaca postingan ini hati menjadi geram dengan penghancuran Hutan Taano Batak. Mari kita selamatkan!
Aku hanya bisa menangkap kata2nya yang tersurat, namun aku tak bisa menangkap makna yang tersirat di sana. Dan andai kupaksa bertanya, maka jawabnya adalah: “Tidak ada, baca saja. Bukankah rangkaian kata2 itu sudah memaparkannya?”
Ach… dasar seniman, tidak semua orang bisa memahaminya.
Anyway, Horas ito Muksin, teruslah berkarya. Mengapa tidak dari remaja ? Tapi tak mengapa. Tidak ada kata terlambat untuk berkarya.
Horas
Itomu yang lagi menyambung hidup di P.Batam
ito lagi menyambung hidup di batam…
bila rangkaian kata2 itu sudah memaparkannya,makna2 tak perlu dicari.
biru adalah langit,kenapa kuning jadi perkara?he…he..
iseng2 aja kok,hendak menceritakan cerita yg telah ada.
karya?..i dont thing so….