JAKARTA–MIOL: Pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia 5 Juni 2005 bertema “Jadikan Bumi Bersih dan Hijau” dan bertempat dalam suasana asri di taman Istana Kepresidenan Cipanas, Jabar, Senin (6/6), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono antara lain mengungkapkan, kerusakan alam sebagian besar dilakukan oleh tangan-tangan nakal manusia.Namun, masih ada tangan-tangan “dewa” yang peduli pada kelestarian alam. Merekalah peraih Kalpataru 2005 yang diberikan Yudhoyono pada acara peringatan itu.

Anugerah Kalpataru diberikan kepada perorangan atau kelompok masyarakat yang telah menunjukkan kepeloporannya dalam melestarikan fungsi lingkungan.

Kalpataru berarti pohon hayat, lambang kehidupan abadi, kelestarian dan keserasian lingkungan, yang diambil dari relief Candi Mendut dan Prambanan.

Sejak 1980 hingga 2004, jumlah penerima penghargaan Kalpataru sebanyak 207 orang atau kelompok, dan untuk tahun 2005 terdapat 10 orang atau kelompok yang mendapatkan penghargaan tertinggi dari negara di bidang pelestarian lingkungan hidup itu.Penghargaan itu diberikan kepada seseorang, bukan aparat pemerintah tokoh organisasi formal, atau pengusaha, yang telah berhasil melakukan usaha luar biasa dan merupakan hal baru bagi daerahnya dalam rangka pengembangan dan pelestarian fungsi lingkungan.

Salah satu peraih Kalpataru 2005 untuk Kategori Perintis Lingkungan Hidup adalah Marandus Sirait.

Marandus Sirait, penduduk Desa Sionggang, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir, Sumut, berhasil membuat hutan ekowisata Taman Eden 100 sejak didirikannya tahun 1998, sehingga memperindah pesona perbukitan di sekitar Danau Toba.Di kawasan ekowisata yang dibangun di lahan milik keluarganya seluas 40 hektare dan 200 hektare lahan lain yang ia awasi, Sirait mewajibkan pengunjungnya untuk menanam pohon, agar mencapai minimal 100 jenis tanaman.

Penyanyi Joy Tobing, pemenang Indonesian Idol yang ditayangkan di RCTI beberapa waktu lalu, merupakan salah seorang yang telah menanam pohon di Taman Eden 100.Jenis tanaman di Taman Eden 100 antara lain, jabi-jabi, hariara, anturmangun, sampinur tali, sampinur bunga, mahoni, ingul, mindi pinus, cemara, enau, petai, jengkol, kedongdong, andalehat, dan alpukat.

Sirait berhasil melestarikan berbagai jenis tanaman khas Danau Toba, menjaga ketersediaan sumber air Danau Toba, dan menjaga kelestarian hutan, serta menjadikannya sebagai salah satu objek wisata.

Tidak mudah bagi mereka untuk bisa menerima Kalpataru 2005 itu, karena mereka melalui proses penjaringan yang ketat dari 125 calon yang dilakukan oleh tim dari dewan pertimbangan Kalpataru atau tim peninjau lapangan dari kantor Kementerian Lingkungan Hidup.

“Mereka para pahlawan, pejuang lingkungan hidup,” kata Presiden.(Ant/Ol-1).

Sumber : Media Indonesia Online

About these ads